Gemercik tetes peluh yang menghantam lantai
satu demi satu
tas...
tas..
tas...
Tak pernah kusadari
Kaki ini terus melangkah
Kaki ini terus melangkah
ke kiri
ke kanan
ke depan
ke belakang
ke arah cahaya itu datang
tak peduli warna apa yang kupilih
dengan hembusan angin aku terus melangkah
mengikuti arah angin yang berputar
Lihat!
cahaya itu redup bersama angin.
Aku diam.
Menunduk tak bergerak
menanti datang cahaya lagi
Datang!
Setitik cahaya baru datang
Kini angin tak datang
Aku berdiri
Aku berjalan sendiri
Dengan kaki kecilku
Dengan kaki letihku
Semakin ku dekati
Semakin meredup
Ku paksakan untuk berlari
melompat
dengan apa yang tersisa
Hilang!
Itu bukan cahaya yang kucari
Tak sanggup aku berdiri
Kini aku tersungkur dan menangis
ku benamkan wajahku ke tanah
Berharap cahaya yang kukejar itu menyinariku
ku coba membalikkan badan
Indah, Begitu indah
Cahaya tipis yang terang
Yang selalu menyinariku tanpa sadarku
Ku hapus peluh di dahi
Air mata ini
kini menetes tanpa kesedihan
Kini senyuman bisa ku raih
Ku coba untuk melihat lebih jauh
ia tidak redup
sinarnya semakin terang
Terima kasih Tuhan
Kau berikan cahaya yang mau menyinariku
Kau berikan cahaya yang mau menyinariku
Yang mau menerangiku walaupun tak kukejar
Jangan kau hilangkan cahaya itu dariku.
Hei kau! yang menyinariku.
Simpan sinar terterangmu.
Cukuplah tipis saja kau berikan padaku
Suatu nanti aku yakin
Simpan sinar terterangmu.
Cukuplah tipis saja kau berikan padaku
Suatu nanti aku yakin
pasti kudapatkan sinar terterangmu yang abadi
Tidak pernah redup sama sekali
Mungkin terbesit pada pikiran kalian
Apa sebenarnya cahaya itu
Cahaya itu
Cahaya itu
KAMU

Tidak ada komentar:
Posting Komentar