Rabu, 05 Oktober 2011

Cahaya itu

Gemercik tetes peluh yang menghantam lantai
satu demi satu
tas...
tas..
tas...
Tak pernah kusadari
Kaki ini terus melangkah
ke kiri
ke kanan
ke depan
ke belakang
ke arah cahaya itu datang
tak peduli warna apa yang kupilih


dengan hembusan angin aku terus melangkah
mengikuti arah angin yang berputar
Lihat!
cahaya itu redup bersama angin.
Aku diam.
Menunduk tak bergerak
menanti datang cahaya lagi


Datang!
Setitik cahaya baru datang
Kini angin tak datang
Aku berdiri
Aku berjalan sendiri
Dengan kaki kecilku
Dengan kaki letihku


Semakin ku dekati 
Semakin meredup
Ku paksakan untuk berlari
melompat 
dengan apa yang tersisa


Hilang!
Itu bukan cahaya yang kucari
Tak sanggup aku berdiri
Kini aku tersungkur dan menangis
ku benamkan wajahku ke tanah
Berharap cahaya yang kukejar itu menyinariku



ku coba membalikkan badan


Indah, Begitu indah
Cahaya tipis yang terang
Yang selalu menyinariku tanpa sadarku
Ku hapus peluh di dahi
Air mata ini 
kini menetes tanpa kesedihan
Kini senyuman bisa ku raih


Ku coba untuk melihat lebih jauh
ia tidak redup
sinarnya semakin terang
Terima kasih Tuhan
Kau berikan cahaya yang mau menyinariku
Yang mau menerangiku walaupun tak kukejar
Jangan kau hilangkan cahaya itu dariku.


Hei kau! yang menyinariku.
Simpan sinar terterangmu.
Cukuplah tipis saja kau berikan padaku
Suatu nanti aku yakin 
pasti kudapatkan sinar terterangmu yang abadi
Tidak pernah redup sama sekali


Mungkin terbesit pada pikiran kalian
Apa sebenarnya cahaya itu
Cahaya itu  



KAMU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar